Sabtu, 31 Oktober 2009

Program Menteri 100 hari, mungkinkah?....

Mungkinkah...? mungkin tidak mungkin, mungkin menjadi relatif tetapi menurut saya sebaiknya menteri berpikir dan bertindak yang rasional. Mengapa? apakah ada menteri yang tidak berpikir dan bertindak bahkan berucap irrasional? Sebelum lebih jauh membahas substansi ada baiknya kita simak beberapa pertanyaan sederhana agar masyarakat awampun diharapkan dapat memahami - bukan sebaliknya dibuai dengan harapan dan kata-kata yang aduhai - tetapi sebetulnya sulit bahkan mungkin tidak akan tercapai.

Pertama, bagaimana mungkin nasib bangsa 5 tahun ke depan dipertaruhkan hanya melalui konsep bewayang 1/2 malam karena besok pagi-pagi harus ke Cekeas menghadap Presiden untuk discuss. Maka tidak heran ketika wartawan menanyai sang calon menteri (sebelum diputuskan menjadi menteri) di depan microphone yang sudah disiapkan, ada yang menjawab 1/2 grogi, enteng sekenanya aja karena memang tidak siap 100%. Jadi banyak benarnya menurut beberapa kalangan bahwa si A, si B dapat menjadi menteri karena nasib baik saja bukan karena kinerja mereka sebelumnya, bahkan ada yang menyebutnya kabinet perkoncoan - meski ada juga yang sudah berpengalaman dalam bidangnya ya...kita akui itu,...ada beberapa.
Sehingga tidak heran ada sang calon yang nyebut salah satu program 100 harinya bahwa untuk membantu bla ...bla...bla dengan menekan suku bunga...hehehe padahal itu sama sekali bukan wewenang dia, tingkat suku bunga menurut teori banyak tergantung pada kondisi ekonomi makro suatu negara dan Bank Indonesia sebagai nakhoda yang berperan independen.....
Hal ini sangat disayangkan karena dapat menipu rakyat yang tidak mengerti kecuali manggut-manggut karena besok belum tentu ada sepiring nasi untuk dirinya dan keluarga.....

Selanjutnya, apakah rasional program implementasi dalam 100 hari yang direncanakan dapat dilaksanakan 1/3 Oktober, Nopember, Desember 2009 yang sudah ditetapkan dalam tahun 2008? Bahkan program kerja masing-masing Departemen dan Non Departemen tahun 2010 sudah diketok pada tahun 2009?....
Jadi simaklah dengan teliti.....

Memang saya akui ada menteri yang menjawab dengan: "saya segera melakukan koordinasi dengan jajaran yang ada di Departemen yang saya pimpin tentang....bagaimana....ds
t"..Inilah menurut saya yang paling rasional meski mungkin sangat biasa.....tapi di balik itu selanjutnya dapat menjadi luar biasa....jika ada prinsip evaluasi sistemik, konsistensi, akurasi, dan tanggung jawab untuk merekonstruksi agar lebih positif dengan.....(yang rasional tentunya).

Kepada para menteri sepantasnya diucapkan "selamat" untuk jabatannya dan hantar dengan Insya Allah dan Innalillah dengan dalam tanda petik "amanah"....

Kepada Bapak Presiden SBY, pertimbangan yang presiden lakukan untuk memilih menteri mungkin sudah baik, saya katakan baik bukan benar sebab benar indikatornya agak rumit, tetapi setulusnya jika berkenan, saya ingin sarankan agar ke depannya dalam pertimbangan penentuan memilih menteri perlu track record yang lebih jelas, tidak dilalui dengan serentetan final test dalam beberapa hari.......(Lanjutkan......!!!)

Wallahu 'Alam....

Selasa, 30 Juni 2009

PERMASALAHAN UDANG GALAH DI KALIMANTAN SELATAN....
1. Teknis Budidaya
Berbeda dengan memelihara ikan, pemeliharaan udang galah memerlukan lingkungan yang spesifik untuk tempat hidupnya. Kolam perlu didisain dengan dasar dan sedimen yang cocok dan sehat karena udang galah adalah hewan yang merangkak di dasar habitatnya. Kedalaman air, pemberian shelter tempat berlindung udang, sarana caren di dasar kolam, sirkulasi air masuk-keluar harus mendapat perhatian khusus untuk meningkatkan produksi dan kemudahan dalam pemeliharaan. Pemberian pakan yang tepat jumlah, mutu, ukuran dan waktu pemberian seringkali kurang mendapat perhatian khusus dan akibatnya produksi udang tidak sesuai dengan perkiraan sebelumnya. Tahap persiapan kolam dan pemupukan berkala selama pemeliharaan akan sangat membantu dalam efisiensi pemberian pakan, kestabilan kualitas air dan kompetisi dari hewan air lainnya.
Pembudidaya udang galah pemula biasanya menghadapi masalah dalam menentukan waktu panen, menetapkan ukuran udang yang sesuai dengan permintaan pasar, dan mengemas udang pasca panen dengan baik. Terdapat beberapa hal pada saat panen yang harus dihindari agar tidak merugikan pembudidaya, antara lain:
a. Panen dilakukan dengan mengeringkan kolam secara total, karena udang yang masih kecil ikut terpanen dan air yang telah kaya dengan organisme dan mineral terbuang percuma.
b. Panen selektif dengan menggunakan jaring hapa dilakukan tanpa mengeringkan kolam, karena yang tertangkap adalah udang dengan ukuran tertentu. Kerugian yang muncul dengan
sistem ini adalah banyak membutuhkan tenaga kerja dan ikan predator tidak dapat
dibersihkan dari kolam.
c. Udang galah hasil panen dicampur dengan udang galah yang sedang molting. Udang campuran
tersebut mudah rusak sehingga tidak laku dijual ke pengepul. Akibatnya, udang tersebut
harus dijual ke konsumen akhir dengan harga yang lebih murah.

2. Variasi Pertumbuhan Tinggi
Udang galah mempunyai kekhasan dalam variasi tumbuhnya. Dominasi udang galah yang cepat tumbuh terhadap yang lambat tumbuh merupakan penghambat dalam mengejar produktivitas udang yang akan dipanen. Teknologi seleksi udang pada ukuran tokolan merupakan satu pilihan untuk menghindari masalah tersebut. Udang yang cepat tumbuh dipelihara terpisah dengan udang yang lambat tumbuhnya, sehingga efisiensi pemberian pakan dapat terwujud dan pertumbuhan dapat lebih cepat.

3. Keterbatasan Benih Udang Galah
Jaminan pasokan benih yang lancar dan cukup merupakan masalah utama yang sering dihadapi petani. Hal ini terjadi karena kurangnya hatchery dan cara pengoperasionalnya yang belum optimal sebagai akibat keterbatasan induk. Sebagai gambaran pada tahun 2001, permintaan benur udang galah mencapai sekitar 5.000.000 ekor, sementara kapasitas produksi dari hatchery yang ada hanya berkisar 700.000 – 1.000.000 ekor per bulan. Lokasi pemeliharaan udang galah yang jauh dari hatchery merupakan masalah turunan selanjutnya. Konsekuensi dari kedua masalah itu adalah tambahan biaya produksi bagi petani. Kerjasama antar hatchery dan petani pentokolan dan pembesaran perlu digalakkan sehingga permasalahan penyediaan pasokan benih dari hatchery dapat ditangani oleh sekelompok petani pentokol saja. Petani pembesar akan mudah mendapatkan benih dari petani pentokol terdekat.

4. Lokasi Budidaya Terpencar Tapi Dalam Skala Luasan Yang Kecil
Mencari lokasi pembesaran udang galah yang luas dengan kriteria sumber air dan kualitas sedimen yang memenuhi syarat lebih sulit dibandingkan lokasi untuk udang windu (tempat pemeliharaannya dipinggir pantai). Lokasi budidaya udang galah yang terpusat pada suatu lokasi yang luas akan dapat meningkatkan efisiensi usaha budidaya. Biaya transportasi benih, transportasi pakan/pupuk dan pemakaian tenaga akan menjadi lebih murah bila dibandingkan dengan kondisi lokasi budidaya yang terpencar di banyak tempat tapi dalam luasan yang kecil. Disamping itu, pengelolaan akan lebih mudah dan efisien serta jaminan produksi untuk skala pasar yang besar dapat terlayani.

5. Belum Ada Studi Skala Usaha Optimum
Sampai saat ini belum dilakukan studi untuk skala usaha optimum bagi budidaya udang galah. Akibatnya pembudidayaan yang dilakukan sifatnya hanya disesuaikan dengan luas lahan. Bagi pembudidaya yang memiliki beberapa buah kolam, besarnya keuntungan yang diperoleh tergantung pula pada manajemen pengelolaan kolam yang dimilikinya
Sebagian besar kegiatan budidaya tambak di Kalimantan Selatan diusahakan untuk menghasilkan komoditi Udang, sebagai sasaran produksinya dari jenis/species Udang Windu (Paneus monodon). Hal ini terkait dengan pasar dan nilai ekonomis yang tinggi baik di pasaran dalam negeri maupun luar negeri, disamping penguasaan teknologi mulai dari tahap pembenihan sampai dengan pembesarannya sudah dapat diterapkan oleh petambak/ pengusaha hatchery. Di Kalimantan Selatan produksi udang galah sebagian besar hanya mengandalkan dari kegiatan penangkapan di perairan umum terutama sungai, sedangkan dari kegiatan budidaya masih sangat kurang. Salah satu upaya mengantisipasi kegiatan penangkapan tersebut, perlu dilakukan usaha-usaha peningkatan hasil produksi dengan berbagai macam teknis budidaya yang tentunya diperlukan ketersediaan sarana produksi (agro input) yang memadai, diantaranya ketersediaan pakan yang bermutu.
Kemudian untuk data – data statistik mengenai jumlah produksi udang galah untuk wilayah Kalimantan Selatan untuk data 1 (satu) dasawarsa oleh Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Kalsel belum terekam secara terperinci mengenai data jumlah produksi tersebut sehingga membuat penulis kesulitan untuk menuangkannya ke dalam tulisan ilmiah ini.

Masalah yang dihadapi oleh sebagian besar pembudidaya udang galah dalam memasarkan produknya antara lain adalah produk belum standar dalam hal jenis dan ukuran; serta kondisi fisik dari produk belum memenuhi persyaratan mutu. Dengan masih adanya masalah tersebut, pengumpul sebagai pembeli produk kadang-kadang kecewa dengan hasil panen yang dibeli karena tidak sesuai dengan klasifikasi udang yang diinginkan.
Demikian pula, belum dikuasainya teknologi pasca panen dan kurangnya peralatan pengemasan dan transportasi untuk pengiriman jarak jauh, menyebabkan jangkauan pemasaran hasil produk masih terbatas atau hanya berorientasi lokal. Namun demikian, diperoleh informasi bahwa Puslit Limnologi LIPI Bogor telah berusaha menciptakan alat transportasi darat berupa mobil pick-up berkapasitas 50 kg yang dilengkapi dengan aerator dan mampu digunakan untuk memindahkan udang dalam jangka waktu sampai dengan 12 jam.
Untuk ekspor, masalah yang dihadapi adalah belum terjaminnya kesinambungan pasokan; belum terpenuhinya ukuran udang galah ekspor yaitu udang berukuran super; dan belum terpenuhinya persyaratan mutu sebagai komoditas ekspor, khususnya baku mutu kandungan bakteri, kandungan logam berat dan residu antibiotik.

Jumat, 20 Maret 2009

Mata Kuliah MANAJEMEN SUMBERDAYA MANUSIA

MATA KULIAH

MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA

Topik Diskusi

Pendidikan Kesetaran Program Paket A, B, C

di Kabupaten Hulu Sungai Utara

Prof.Dr.H. Idiannor Mahyudin, MSi & Hernani

DAFTAR ISI

Halaman Judul

Kata Pengantar

Daftar Isi

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

B. Rumusan Masalah

C. Empiris

BAB II KAJIAN FUSTAKA

A. Pengertian

B. Fungsi dan Tujuan

C. Ruang Lingkup

D. Rambu-rambu

BAB III PEMBAHASAN

A. Pelayanan Pembelajaran

B. Pendekatan Pembelajaran

BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan

B. Saran

Daftar Pustaka

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas, merupakan kebutuhan mutlak bagi suatu bangsa atau Negara., jika ingin ikut berpartisipasi aktif dalam pembangunan di era kesejagatan ini. Dalam kerangka peningkatan sumberdaya manusia Indonesia, pemerintah melaksanakan berbagai upaya, yang salah satu dari upaya-upaya tersebut adalah melalui pembangunan pendidikan, karena pendidikan merupakan kebutuhaan dasar manusia dan merupakan langkah yang paling strategis untuk meningkatkan kualitas SDM.

Di dalam Undang-Undang nomor 20 tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional, dinyatakan bahwa pendidikan nasional diselenggarakan melalui tiga jalur, yaitu: pendidikan formal, nonformal, dan informal. Melalui jalur pendidikan nonformal, pemerintah dalam hal ini Direktorat Pendidikan Masyarakat, Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda, Departemen Pendidikan Nasional, menyelenggarakan berbagai program yang salah satu diantaranya adalah Pendidikan Kesetaraan yang terdiri atas (1) Pogram Paket A, yaitu program yang memberikan pelayanan pendidikan Setara Sekolah Dasar (SD), (2) Program Paket B, yaitu program yang memberikan pelayanan pendidikan Setara Sekolah Menengah Pertama (SMP), DAN (3) Program Paket C, yaitu program yang memberikan pelayanan pendidikan Setara Sekolah Menengah Atas (SMA).

Secara umum, sarana dari program-program pendidikan nonformal adalah mereka yang tergolong kurang beruntung, baik dari aspek ekonomis, geografis, dan sosial budaya. Oleh karena itu, aspek akademis dan kecakapan hidup dalam program-program pendidikan nonoformal selalu dibelajarkan secara integrasi.

Pendidikan kesetaraan sebagai bagian dari pendidikan nonformal, disamping memberikan kemampuan akademik sesuai dengan jenjangnya, secara terintegasi juga memberikan berbagai kecakapan hidup, yang nantinya setelah lulus dari program-program pendidikan kesetaraan, mereka dapat memanfaatkannya untuk bekal mencari nafkah dan/melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi dalam rangka peningkatan kualitas dan kesejahteraan hidupnya.

Untuk meningkatkan sekaligus memastikan kualitas pelayanan, output dan outcome program-program kesetaraan, Direktorat Pendidikan Masyarakat, Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda, Departemen Pendidikan Nasional, pada tahun 2004 ini menyusun berbagai acuan untuk mendukung penyelenggaraan program-program pendidikan kesetaraan. Acuan-acuan yang disusun atau dikembangkan adalah:

1) Acuan pelaksanaan pendidikan kesetaraan program paket A B C

2) Acuan kurikulum pendidikan kesetaraan program paket A B C

3) Acuan pedagogi dan andragogi pendidikan kesetaraaan program paket A B C

4) Acuan pembelajaran pendidikan kesetaraan program paket A B C

5) Acuan ketuntasan belajar pendidikan kesetaraan program paket A B C

6) Bimbingan keterampilan bermatapencaharian pendidikan kesetaraan program paket A B C

7) Acuan pengembangan instrument penilaian dan sertifikasi pendidikan kecakapan hidup program paket A B C

8) Acuan supervise penyelenggaraan pendidikan kesetaraa program paket A B C

9) SPO Penyelenggaraan ujian praktik pendidikan kesetaraan paket A B C

10) Acuan rekruitmen tutor pendidikan kesetaraan program paket A B C

11) Acuan pelatihan tutor pendidikan kesetaraan program paket A B C

Oleh karena peserta didik dalam pendidikan program kesetaraan paket A, B, C sangat luas dengan karakteristik yang khas dan beragam, baik dari segi usia, pengalaman, dan lingkungan, maka untuk menghasilkan lulusan pendidikan kesetaraan yang mempunyai kemampuan yang utuh seperti yang diharapkan pada kurikulum berbasis kompetensi, diperlukan suatu sistem dan pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik masing-masing peserta didik.

B. Rumusan Masalah

Sesuai dengan latar belakang masalah di atas, maka masalah-masalah tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut:

  1. Bagaimanakah pembelajaran pendidikan kesetaraan program paket A, B, dan C di Kabupaten Hulu Sungai Utara.
  2. Bagaimanakah pendekatan pembelajaran yang diterapkan pada pendidikan kesetaraan program paket A, B, dan C di Kabupaten Hulu Sungai Utara.

C. Empiris

Salah satu bentuk pendidikan yang bersifat informal adalah pendidikan yang dikelola pada masyarakat yang tidak dapat mengikuti program pendidikan formal yang disebabkan oleh factor ekonomi, sosial, dan budaya setempat. Dengan adanya program pendidikan luar sekolah yang dikelola oleh pemerintah dan masyarakat, maka masyarakat yang tidak dapat mengikuti pendidikan formal, diberi kesempatan untuk mendapatkan haknya menerima layanan pendidikan dari Negara.

BAB II

KAJIAN TEORI

A. Pengertian

Pembelajaran adalah suatu aktivitas yang didalamnya terdapat proses memberikan dan atau menerima pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai. Proses pembelajaran yang baik dapat menyebabkan perubahan tingkah laku atau tindakan. Tutor sebagai pemberi pengetahuan atau keterampilan perlu memahami berbagai cara, gaya, tanggapan, dan sikap peserta didik dalam proses belajar untuk memastikan pengajaran yang bermakna.

Dalam pembelajaran, pada satu sisi tutor memilki peranan fokus yang bertanggungjawab untuk mengarahkan pembelajaran: apa yang akan dipelajari, bagaimana mempelajarinya, dan kapan suatu materi dipelajari, pada sisi lain peserta didik juga berperan dalam memastikan pada dirinya terjadi proses belajar melalui refleksi diri, pengalamn hidup, dan melalui berbagai macam aktivitas.

B. Fungsi dan Tujuan

Fungsi dari pembelajaran ini untuk membahas bagaimana tutor melakukan pembelajaran dan implikasinya terhadap proses belajar dalam diri peserta didik. Pembelajaran perlu ditingkatkan melalui kegiatan berpusat peserta didik yang merangsang keterampilan manipulatif dan kegiatan berpikir. Acuan ini dirancang dengan menekankan kegiatan berpikir dan keterampilan manual untuk membantu tutor memahami dengan lebih jelas kaidah pembelajaran.

Acuan ini bertujuan untuk:

1 memahami bagaiman tutor mengajar dan implikasinya terhadap peserta didik,

  1. meningkatkan proses tutorial secara aktif supaya pembelajaran peserta didik menjadi lebih bermakna,
  2. meningkatkan penggunaan berbagai metode pembelajaran,
  3. memahami teknik bertanya.

C. Ruang Lingkup

Strategi pembelajaran yang akan dibahas adalah pendekatan pembelajaran konstruktif, eksperimen, diskusi, simulasi, dan kajian lapangan. Pada pendidikan kesetaraan program paket A B C pendekatan pembelajaran lebih cenderung melalui pendekatan pembelajaran konstruktif mengingat peserta didik dalam pendidikan kesetaraan paket A B C terdiri dari usia anak-anak (sekolah) dan orang dewasa dari seluruh lapisan masyarakat yang tergolong kurang beruntung yang beragam sehingga perlu pelayanan yang berbeda-beda.

D. Rambu-rambu

Untuk menggunakan acuan ini, perlu diperhatikan beberapa rambu yang dapat mengarahkan pada tahapan yang sesuai dalam penerapan pembelajaran pendidikan kesetaraan program paket A B C.

  1. Peserta didik adalah seluruh lapisan masyarakat yamg kurang beruntung baik secara ekonomi, geografis, maupun sosial budaya, yang mencakup usia anak-anak (sekolah) dan usia dewasa. Peserta didik yang bervariasi memiliki kekhasan tersendiri, sehingga melakukan pendekatan pembelajaran yang berbeda.
  2. secara praktis acuan ini digunakan sebagai rujukan dalam pembelajaran pendidikan kesetaraan program paket A B C.
  3. Berkaitan dengan beragamnya peserta didik, maka keberagaman, keluwesan layanan, serta waktu pencapaian ahkir pembelajaran, amat tergantung pada karakteristik dan latar belakang sosial budaya peserta didik.

BAB III

PEMBAHASAN

A. Pelayanan Pembelajaran

Pembelajaran diselenggarakan untuk membantu watak, peradapan, dan meningkatkan mutu kehidupan peserta didik. Oleh karena itu kegiatan pembelajaran pada pendidikan kesetaraan program paket A, paket B, dan paket C, dimaksudkan untuk memberdayakan potensi peserta didik dalam menguasai kecakapan hidup; personal, sosial, intelektual, dan vokasional, dan memiliki kompetensi belajar sepanjang hayat.

Kegiatan pembelajaran dengan demikian diarahkan untuk mengembangkan kemampuan mengetahui, memahami, melakukan sesuatu, hidup dalam kebersamaan, dan mengaktualisasikan diri, yang harus dilakukan melalui pembelajaran yang:

  1. berpusat pada peserta didik,
  2. mengembangkan kreativitas
  3. menciptakan kundisi yang menyenangkan dan menantang
  4. menyediakan pengalaman belajar yang beragam, dan
  5. menciptakan keseimbangan pengembang moral, keindahan, logika, dan kesehatan jasmani.

1. Pelayanan Individual

Adanya perbedaan individual mengandung arti bahwa tiap anak tumbuh dan berkembang menurut irama yang berbeda, sesuai dengan kematangan mentalnya. Perkembangan peserta didik ditunjukkan oleh dinamika kemampuan mengelola emosi, daya ingatan, dan cara belajar. Dengan demikian kegiatan pembelajaran perlu memperhatikan perbedaan individual ini, dengan menciptakan suasana belajar yang dapat melayani keragaman kemampuan individual.

Perbedaan-perbedaan individual terjadi karena beberapa aspek. Aspek lingkungan; rumah, rumah, sekolah, lembaga pendidikan, pekerjaan dan lingkungan alam, aspek pengalaman, dan aspek usia. Keberagaman lingkungan, pengalaman dan usia menentukan tahap-tahap kehidupan individual yang beragam dan perbedaan kematangan mental, sosial, dan emosional yang kemudian menjadikan perbedaan individu dalam cara menerima dan menyikapi rangsangan ataupun tugas-tugas yang diberikan kepada mereka sebagai peserta didik dalam proses pembelajaran. Bahkan, walaupun peserta didik berada pada kelompok usia yang hamper sama, mereka adalah kelompok yag heterogen. Mereka berbeda tahap kematangan mental, kemampuan, minat, penyesuaian sosial dan emosi serta prestasi belajar yang mereka capai. Oleh karena itu dalam pembelajaran perlu dipahami bahwa:

  1. peserta didik belajar dengan berbagai cara bergantung kepada keperluan, minat dan gaya.
  2. jarang terdapat dua orang peserta didik yang mempunyai pengalaman dan cara yang sama.
  3. peserta didik mempunyai gaya pembelajaran yang berlainan terhadap lingkungannya karena mereka mempunyai pandangan yang berbeda.
  4. peserta didik merespon dan memproses informasi dengan cara ang berbeda.

Untuk memenuhi perbedaan individual peserta didik seperti di atas, diperlukan pengajaran dan pembelajaran yang memiliki cirri-ciri sebagai berikut:

  1. suasana kelas yang luwes,
  2. menggunakan berbagai metode,
  3. melakukan penilaian proses pembelajaran,
  4. merancang dan melaksanakan kegiatan belajar aktif,
  5. pembelajaran dalam kumpulan kecil,
  6. peningkatan keterampilan sosial,
  7. pengajaran dan pembelajaran berpusatkan peserta didik,
  8. keluwesan tutor sebagai pembimbing,
  9. peserta didik membuat refleksi sendiri, dan
  10. peserta didik menilai dan bertukar pengalaman belajar.

2. Keterampilan Fungsional

Pelaksanaan kegiatan pembelajaran perlu melayani peserta didik untuk memperoleh keterampilan fungsional. Keterampilan fungsional dapat dicapai melalui penerapan bernagai strategi dan metode pembelajaran yang menyenangkan, kontekstual, efektif, efisien, dan bermakna. Penerapan berbagai strategi ini dimaksudkan untuk menumbuhkan kreativitas, kemandirian, kerjasama, solidaritas, kepemimpinan, empati, toleransi, dan kecakapan hidup peserta didik.

Keterampilan fungsional yang perlu dicapai oleh peserta didik adalah keterampilan-keterampilan yang bersifat fungsional dan adaptif, yang dapat menjadikannya sebagai seorang pekerja yang terampil dan produktif dan dapat melaksanakan tugas dengan sempurna dalam berbagai situasi di dunia kerja dan kehidupan sehari-hari.

Keterampilan –keterampilan tersebut adalah meliputi:

  1. keterampilan berkomunikasi,
  2. keterampilan menggunakan teknologi,
  3. ketermpilan merancang dan mengelola aktivitas.
  4. keterampilan bekerja sama dengan orang lain dan dalam tim.
  5. keterampilan menyelesaikan masalah.
  6. keterampilan mengelola, memilih dan menganalisis informasi.
  7. keterampilan menggunakan konsep, gagasan, dan teknik matematik.
  8. keterampilan memahami budaya.

  1. Keterampilan berkomunikasi

Keterampilan berkomunikasi adalah penting bagi semua manusia dalam berbagai situasi baik di tempat kerja ataupun dalam kehidupan. Komunikasi melibatkan gagasan dan informasi untuk menyatakan, mengurai, menjawab persoalan, bercakap-cakap dan menulis.

2. Keterampilan Menggunakan Teknologi.

Keterampilan ini melibatkan penggunaan alat-alat dalam memahami dan menggunakan kaidah-kaidah saintifik dan prinsip-prinsip teknologi, serta penggunaan dan pengendalian alat-alat mengikuti prosedur secara terampil.

3. Keterampilan merancang dan mengelola aktivitas.

Keterampilan ini melibatkan kemampuan merancang dan mengelola aktivitas diri sendiri termasuk dalam menggunakan sumber, menentukan prioritas, dan mengendalikan pencapaian diri.

4. Keterampilan bekerja sama dengan orang lain dalam tim.

Keterampilan yang berkaitan dengan kerja sama dengan orang lain dan dalam tim secara efektif yang berfokuskan kepada kemampuan individu dalam berinteraksi dengan individu yang lain atau di dalam tim.

5. Keterampilan menyelesaikan masalah.

Yaitu keterampilan menyelesaikan masalah dalam berbagai situasi, termasuk situasi yang memerlukan pemikiran dan pendekatan yang kreatif dalam mencapai suatu keputusan.

6. Keterampilan mengelola, memilih, dan menganalisis Informasi.

Keterampilan ini mencakup kemampuan mengenal dan memilih informasi, menilai informasi, menentukan sumber informasi dan cara mendapatkan informasi, serta menggunakan informasi secara efektif dan tepat.

7. Keterampilan menggunakan konsep, gagasan dan metode ilmiah, serta teknik matematik.

Yaitu keterampilan dalam menerapkan konsep, gagasan dan metode ilmiah, yang melibatkan kemampuan menggunakan gagasan dan teknik matematik seperti nomor dan ruang dalam kehidupan sehari-hari, misalnya membuat anggaran harian.

8. Keterampilan memahami budaya

Yaitu keterampilan ini memahami, menghayati dan mengamalkan nilai-nilai seperti kesatuan, bertenggang rasa, dan saling menghormati antara satu sama lain, serta mewujudkan keharmonisan dengan rekan sejawat dan masyarakat.

3. Penerapan Teori Belajar

Terdapat berbagai teori belajar seperti berikut.

1. Behavioris

· Menekankan pada perubahan tingkah laku yang dapat diamati setelah seseorang diberi perlakuan.

· Hadiah atau hukuman dapat digunakan untuk mendorong perubahan tingkah laku.

· Penyusunan tujuan instruksional yang dapat diukur atau diamati sangat ditekankan dalam perencanaan tutorial.

· Tutor tidak menelaah pengetahuan yang telah diketahui dan kejadian pada proses berpikir seseorang.

2. Kognitif

· Semua gagasan ditunjukkan dengan skema.

· Jika informasi sesuai dengan skema akan diterima, jika tidak akan disesuaikan atau skema yang disesuaikan.

· Belajar merupakan penguasaan atai penataan kembali struktur kognitif dimana seseorang menghafal dan menyimpan informasi.

3. Konstruktif

· Belajar merupakan pembangunan pengetahuan berdasarkan pengalaman yang telah dipunyai sebelumnya.

· Belajar merupakan proses yang aktif dengan mengaitkan pengalaman dan informasi baru, serta dengan berinteraksi dengan orang lain.

· Belajar perlu disituasikan dalam keadaan nyata.

Agar peserta didik dapat mengembangkan kompetensi dan kecakapan hidup maka tutor perlu lebih menggunakan metode konstruktif disamping behavioris dan kognitif.

4. Penerapan Pedagogi dan Andragogi


Pedagogi

Andragogi

Kategori Usia Peserta Didik

Anak

Orang Dewasa

Konsep Diri

Bergantung

Lebih Mandiri

Pengalaman

Pengalaman tetapu yang dapat dijadikan sumber belajar lebih terbatas.

Pengalaman lebih unik, yang dapat dijadikan sumber belajar lebih kaya.

Kesiapan Belajar

Bergantung pada ketertarikan sesuai rasa ingin tahu, perkembangan fisik, dan emosinya.

Diorientasikan pada tugas, peran dan fungsinya dimasyarakat.

Orientasi Belajar

Lebih berpusat pada subjek, bila tutornya tidak menarik perhatiannya akan kurang, menunda penerapan pengetahuan.

Segera menerapkan pengetahuannya dalam permasalahan yang dihadapinya.

Bergeser dari berpusat pada subjek ke berpusat lebih pada masalah.

B. Pendekatan Pembelajaran

Aktivitas pengajaran dan pembelajaran bukan hanya merupakan proses penyampaian dan penerimaan informasi tetapu juga memberikan pengalaman belajar kepada peserta didik. Pengalaman ini harus memberikan dorongan untuk merubah tingkah laku peserta didik seperti yang diinginkan.

Pembelajaran berlaku apabila rangsangan dilakukan oleh totur yang akan menyebabkan perubahan tingkah laku. Untuk melaksanakan proses ini totur dapat menggunakan berbagai pendekatan, strategi, dan kaidah yang sesuai dengan keperluan peserta didik seperti berikut:

  1. Pendekatan Pembelajaran Konstruktif
  2. Pembelajaran kooperatif
  3. Pembelajaran kontekstual

d. Pembelajaran Interaktif

e. Pembelajaran berbasis masalah

f. Pembelajaran dengan peta konsep

g. Pembelajaran berbasis penugasan

h. Eksperimen

i. Diskusi

j. Simulasi

k. Kajian Lapangan

Pembelajaran hendaknya menekankan kaidah atau kegiatan yang berpusat pada peserta didik. Fokus pengajaran dan pembelajaran adalah untuk mengoptimalkan penguasaan hasil pembelajaran secara tuntas. Kegiatan pembelajaran dan pengajaran ini hendaknya dapat meningkatkan perolehan pengetahuan dan keterampilan perlu dikuasai oleh peserta didik dalam menyelesaikan masalah atau membuat keputusan yang bijak.

A. Pendekatan Pembelajaran Konstruktif

Pendekatan Konstruktif melabatkan 5 fase, yaitu:

  1. Tutor memperkirakan pengetahuan yang sudah dimiliki peserta didik pada awal pelajaran melalui kegiatan Tanya jawab atau ujian.
  2. Tutor menguji ide peserta didik.
  3. Tutor membimbing peserta didik menstrukturkan semua ide yang ada.
  4. Tutor memberi peluang kepada peserta didik untuk mengaplikasikan ide baru yang telah diperoleh untuk menguji kebenarannya.
  5. Tutor membimbing peserta didik membuat refleksi dan perbandingan ide lama dan ide baru yang telah diperoleh

Dengan menggunakan pendekatan konstruktif peserta didik dapat menguasai konsep sains dengan betul, penuh kayakinan, dan lebih bermakna.

B. Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran kooperatif menggalakkan peserta didik yang mempunyai berbagai kebolehan berintraksi dan bekerja sama untuk menguasai sesuatu konsep atau keterampilan bukan saja untuk diri sendiri tetapi juga untuk rekan-rekan yang lain, serta memotivasi semua peserta didik. Untuk melakukan pendekatan pembelajaran ini dilakukan melalui teknik pembelajaran, seperti teknik Jigsaw, STAD, Tournamen, dsb.

C. Pembelajaran Interaktif

Pembelajaran interaktif adalah suatuu kaidah yang melibatan interaksi antara tutor dan peserta didik, antar peserta didik, peserta didik dengan computer, atau dengan

lingkungannya. Untuk menjalankan pemnelajaran interaktif, langkah yang perlu diikuti adalah sebagai berikut:

1) Tutor memberitahu peserta didik hasil pembelajaran yang perlu dikuasai.

2) Peserta didik mengemukakan masalah yang berkaitan dengan hasil pembelajaran.

3) Tutor bersama peserta didik membahas masalah yang dikemukakan peserta didik.

4) Tutor bersama peserta didik meneliti dan memilih masalah yang berkaitan dengan hasil pembelajaran yang telah ditentukan.

5) Peserta didik menjalani kegiatan secara individual atau kelompok untuk mencari jawaban.

6) Peserta didik memaparkan kegiatan mereka.

7) Peserta didik merumuskan hasil kegiatan dengan bantuan tutor.

Sewaktu merancang kegiatan pembelajaran tutor perlu memperhatikan hal-hal berikut:

a) kemampuan peserta didik yang berbeda-beda,

b) pengalaman belajar peserta didik yang berbeda,

c) metode yang bervariasi,

d) alat, bahan, dan fasilitas yang tersedia,

e) waktu yang tersedia.

Metode, bahan, dan media diperlukan dalam pembelajaran supaya:

a) peserta didik lebih mudah memahami dan menghayati pelajaran,

b) pembelajaran menjadi lebih menarik, bermakna, dan menyenangkan.

Ada dua pendekatan pengajaran dan pembelajaran terpenting, yaitu:

a) berpusay pada tutor,

b) berpusat pada peserta didik.

Pada pendekatan yang berpusat pada tutor, metode yang dapat digunakan adalah sebagai berikut:

a) menerangkan,

b) menjelaskan,

c) bercerita,

d) uraian, memberi catatan,

e) pengarahan,

f) demontrasi.

Pada pendekatan yang berpusat pada peserta didik, metode yang dapat digunakan adalah sebagai berikut:

a) bercerita,

b) bacaan,

c) belajar mandiri,

d) inkuiri,

e) penemuan,

f) tanya jawab,

g) bermain peran,

h) demonstrasi,

i) menyelesaikan masalah / tugas,

j) sumbang saran,

k) proyek,

l) pembelajaran kooperatif.

D. Pembelajaran Kontekstual

Pendekatan pembelajaran ini adalah pemberian materi ajar harus terkait dengan lingkungan dimana peserta didik hidup dan bekerja. Peserta didik merasa bahwa ilmu pengetahuan yang dipelajarinya terkait langsung dengan kehidupannya sehari-hari.

E. Pembelajaran Berbasis Masalah

Pendekatan pembelajaran berbasis masalah mengembangkan pengetahuan peserta didik dari permasalahan yang paling dekat dengan dirinya. Membangun pengetahuan dari serangkaian permasalahan yang tutor berikan, sehingga peserta didik dapat membuat kesimpulan dari serangkaian penyelesaian masalah yang dibuat.

F. Pembelajaran Dengan Peta Konsep

Pembelajaran ini membangun pengetahuan peserta didik dari memilih mana konsep-konsep yang sedang dipelajari. Kemudian setiap konsep tersebut dihubungkan keterkaitan atau ketergantungannya. Peserta didik akan menemukan keterkaitan antar konsep dan membentuk pengetahuan yang skemantik.

G. Pembelajaran Berbasis Penugasan

Pendekatan ini hakikatnya mirip dengan pembelajaran berbasis masalah. Peserta didik diberi masalah dan ditugaskan atau membuat hasil karya untuk dikerjakan secara mandiri, baik di rumah, di tempat bekerja atau di tempat yang berhubungan dengan masalah yang diberikan. Hasilnya dipresentasikan dalam diskusi kelompok besar maupun kelompok kecil. Pengetahuan akan terbangun dari masukan setiap peserta didik, dan tutor berfungsi sebagai fasilitator yang membantu peserta didik merumuskan temuannya.

H. Eksperimen

Pendekatan eksperimen merupakan satu pengajaran dan pembelajaran yang biasa digunakan dalam pendidikan. Istilah eksperimen ini sering diartikan denagn proses menjalankan kajian atau penyiasatan tentang suatu fenomena yang berlaku dalam alam sekitar. Di antara cirri-ciri utama eksperimen ialah:

· Unsur unsur ingin tahu dan sikap saintifik, fikiran terbuka, ketabahan dalam mencari jawaban atau penyelesaian terhadap sesuatu masalah, tidak terburu-buru dalam membuata keputusan dan sebagainya.

· Unsure-unsur pembelajaran melalui pengalaman mendapat penekanan.

Ini bermaksud sesorang itu dibimbing untuk menemui atau memperoleh ilmu pengetahuan, di samping secara sistematik diasuh untuk menguasai keterampilan seperti keterampilan proses modul, keterampilan berpikir secara kritis, kreatif, dan analisis. Oleh karena itu, eksperimen memberikan peluang kepada peserta didik untuk mengalami satu pengalaman pembelajaran yang menyenagkan dan bermakna sesuai dengan sikap dan minat ingin tahu tentang diri sendiri dan juga peristiwa-peristiwa yang berlaku di sekitar mereka.

Bagi tutor yang melaksanakan pembelajaran dengan metode eksperimen, perlu memastikan pelaksanaannya berjalan dengan lancer disamping mencapai tujuan pengajaran. Perancangan awal perlu dilakukan dengan memikirkan persoalan seperti berikut:

· Apakah tujuan khusus yang hendak dicapai?

· Apakah persoalan/masalah yang hendak dikaji?

· Apakah masalah-masalah yang perlu disediakan untuk membimbing peserta didik membuat hipotesis?

· Apakah konsep dan prinsip pengajaran yang hendak dibri keutamaan?

· Apakah bahan dan alat radas yang perlu disediakan?

· Bagaimanakah eksperimen akan dijalankan (secara individu/secara kelompok?)

· Apakah prosedur eksperimen tersebut?

· Bagaimanakak hasil eksperimen dicatat?

· Bagaimanakah hasil eksperimen hendak didiskusikan?

· Apakah masalah-masalah yang perlu disediakan untuk sesi diskusi?

· Apakah kesimpulan dari eksperimen ini?

I. Diskusi

Sesi diskusi adalah satu kegiatan yang memberikan peluang kepada peserta didik untuk berperan aktif secara langsung dalam kegiatan pembelajaran. Sesi diskusi yang dirancang denag rapi akan mengembangkan pemikiran yang kreatif dan kritis di kalangan peserta didik. Kegiatan seperti ini akan mengahsilkan peserta didik yang mahir berkomunikasi dan yakin dalam menyampaikan buah pikirannya kepada oaring lain. Diskusi juga akan menolong peserta didik memahami sesuatu masalah dengan lebih jelas dan membantu tutor mengetahui sejauh mana kepahaman mereka. Untuk berperan serta secara aktif peserta didik hendaknya membaca dan berpikir tentang topic yang akan didiskusikan dan menyampaikan apa yang dipahaminya. Diskusi sangat baik untuk membantu peserta didik untuk memahami konsep dan ide yang sukar. Selain itus sesi ini juga membantu peserta didik membentuk pendapat dan sikap mereka mengenai suatu isu seperti “Patutkah kita menebang hutan secara bebas di Negara kita?” dan sebagainya. Diskusi yang baik memungkinkan peserta didik memperoleh beberapa manfaat seperti keterampilan berkomunikasi lisan, keterampilan mendengar, keterampilan berfikir, secara kritikal, teknik penyelesaian masalah, keterampilan sosial, dan kepahaman tentang konsep yang diajarkan dengan lebih mantap.

J. Simulasi

Simulasi merupakan proses belajar dengan bermain peran atau menggunakan alat peraga/bukan alat sesungguhnya. Metode belajar ini membawa suasana menjadi hidup, karena sesuatu atau seseorang yang diperankannya terasa hadir dan wujud yang aktif di depan peserta didik.

K. Kajian Lapangan

Kajian lapangan dapat membantu peserta didik untuk hidup mandiri karena langsung berhubungan dengan situasi yang ada. Kajian lapangan antara lain meliputi:

  1. Perkemahan

Perkemahan dapat melatih peserta didik untuk hidup mandiri dengan memecahkan sendiri permasalahan yang harus dihadapi. Perkemahan dapat diberi tema sesuai dengan penekanan yang diinginkan, misalnya perkemahan bakti sosial di daerah yang tertimpa becana.

  1. Bakti Sosial

Bakti sosial diharapkan akanmampu melatih dan mengembangkan empati peserta didik serta menumbuhkan solidaritas pada orang lain sebagai anggota masyarakat.

  1. Studi Banding Budaya

Studi banding budayandiharapkan akan dapat menumbuhkan rasa toleransi dan saling menghargai atas dasar kesadaran akan keanekaragaman bangsa Indonesia. Kegiatan ini juga diharapkan mampu menumbuhkan sikap menghormati perbedaan.

  1. Penelitian

Penelitian dapat meningkatkan kemampuan peserta dididk untuk berpikir logis dan sistematis dalam menghadapi dan memecahkan masalah. Peserta didik dilatih untuk dapat mengidentifikasi masalah dan menemukan pemecahannya secara kontekstual.

  1. Koperasi Peserta Didik

Koperasi peserta didik mendorong peserta didik untuk bekerja sama dalam satu tim. Selain itu, peserta didik juga dapat menghargai pekerjaan dan hasil karya orang lain sambil melatih keterampilan berorganisasi.

  1. Kebun Percobaan dan Bengkel Peserta Didik

Kebun percobaan dan bengkel peserta didik mendorong peserta didik untuk dapat menerapkan teori, konsep, prinsip, dan kaidah dalam bidang ilmu yang telah dipelajari ke dalam kegiatan nyata.

BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Pelayanan Pembelajaran diselenggarakan untuk membentuk watak, peradaban, dan meningkatkan mutu kehidupan peserta didik. Oleh karena itu, kegiatan pembelajaran pada pendidikan kesetaraan program paket A, B, dan C dimaksudkan untuk memberdayakan potensi peserta didik dalam menguasai kecakapan hidup, rasional, sosial, intelektual, dan vokasional, serta memiliki kompetensi belajar sepanjang hayat.

2. Pendekatan pembelajaran yang diterapkan berperinsif pada siswa dimana peserta didik membangun pengetahuannya dari dirinya sendiri.

B. Saran

1. Kepada bidang pendidikan luar sekolah yang mengelola program paket A, B, dan C supaya dapat meningkatkan mutu pelayanan pendidikan pada masyarakat.

2. Kepada masyarakat yang tidak sempat menikmati layanan pendidikan formal, supaya dapat memanfaatkan layanan pendidikan informal seperti: Pendidikan Kesetaraan Program Paket A, B, dan C.

DAFTAR PUSTAKA

Ella Yulaelawati. 2004. Acuan Pembelajaran Pendidikan Luar Sekolah. Jakarta. Departemen Pendidikan Nasional.

Ace Suriadi. 2006. Acuan Pendidikan Kesetaraan. Jakarta. Departemen Pendidikan Nasional.

Kamis, 19 Maret 2009

SILABI MATA KULIAH

MATA KULIAH : Ekonomi Sumberdaya

KODE / SKS : PSDA 532/3

Prasyarat : -

1. Standar Kompetensi

Mahasiswa memiliki pengetahuan dan kemampuan aplikasi analisis ekonomi dalam pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya alam & lingkungan untuk pembangunan berkelanjutan.

2. Kompetensi Dasar

a. Mampu memahami konsep ekonomi sumberdaya alam & lingkungan dan pentingnya analisis ekonomi bagi eksistensi sumberdaya alam & lingkungan

b. Mampu memahami arti barang publik, eksternalitas, dan hak kepemilikan

c. Mampu memahami aspek fondasi ekonomi sumberdaya alam

d. Mampu memahami dan mengaplikasikan prinsip dasar model ekonomi sumberdaya alam tidak terbarukan untuk menganalisis Ekonomi SDA dan lingkungan

e. Mampu memahami dan mengaplikasikan prinsip dasar model ekonomi sumberdaya alam terbarukan untuk menganalisis Ekonomi SDA dan lingkungan bidang perikanan

f. Mampu memahami dan mengaplikasikan prinsip dasar model ekonomi sumberdaya alam untuk menganalisis ekonomi sumberdaya mineral

g. Mampu memahami dan mengaplikasikan prinsip dasar model ekonomi sumberdaya alam terbarukan untuk menganalisis Ekonomi SDA dan lingkungan bidang kehutanan

h. Mampu memahami dan mengaplikasikan prinsip dasar model ekonomi sumberdaya alam untuk menganalisis ekonomi sumberdaya lahan

i. Mampu memahami dan mengaplikasikan prinsip dasar model ekonomi sumberdaya alam untuk menganalisis ekonomi sumberdaya air

j. Mampu memahami pengertian dan ruang lingkup ekonomi pencemaran

k. Mampu memahami pengertian dan aspek-aspek valuasi non-pasar

l. Mampu memahami konsep dan pentingnya ekonomi pembangunan berkelanjutan dalam hubungannya dengan kaidah-kaidah pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan.


3. Deskripsi Materi

a. Definisi sumber daya dan pengertian ekonomi sumber daya alam, pandangan terhadap sumber daya alam, klasifikasi sumber daya alam, pengukuran ketersediaan sumber daya, pengukuran kelangkaan sumber daya alam, keterkaitan antara sumber daya alam dan ekonomi.

b. Deskripsi barang publik, eksternalitas dan kegagalan pasar, hak dan rezim pemilikan, respons terhadap eksternalitas.

c. Membahas aspek ekonomi kesejahteraan, menjelaskan kurva penawaran, surplus, dan discounting.

d. Menjelaskan dasar-dasar model Hotelling, ekstraksi multiperiode, alur ekstraksi, ekstraksi sumberdaya pada struktur pasar monopoli, kebijakan ekonomi terhadap ekstraksi sumberdaya tidak terbarukan, dan model ekstraksi optimal dengan biaya ekstraksi non-linear.

e. Prinsip dasar sumberdaya ikan, teori Gordon-Schaefer, produksi dan fungsi produksi, teori optimasi eksploitasi model Copes, pendekatan analitik optimasi statik, kebijakan ekonomi sumberdaya ikan, model dinamik ekonomi sumberdaya ikan, dan keterkaitan model dinamik dengan model statik.

f. Menjelaskan dasar-dasar fungsi produksi biologi, pendekatan ekonomi pengelolaan hutan, dan analisis ekonomi hutan multiguna.

g. Menjelaskan pendekatan ekonomi sumberdaya lahan (nilai lahan) ditinjau dari aspek waktu, nilai guna karena faktor penduduk, bangunan, dan kepentingan lainnya

h. Model ekonomi sumberdaya air bawah tanah (Groundwater), dan alokasi sumberdaya air.

i. Menjelaskan aspek efisiensi pencemaran, dan kebijakan terhadap pencemaran.

j. Konsep nilai untuk sumberdaya dan Willingness to Accept (WTA), teknik penilaian non-pasar sumberdaya alam dan lingkungan, teknik pengukuran tidak langsung, dan benefit transfer.

k. Prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan, indikator keberlanjutan ekonomi, masa depan paradigma keberlanjutan.

----------------------------------------------------------------------------------

Prof.Dr.Ir.H.Idiannor Mahyudin, MSi (koordinator tim)

Ir.Hj. Nuri Dewi Yanti, MSc, PhD

Ir.H. Yusuf Azis, MSc